Monday, 16 February 2015

Sekilas Tentang Presenter ‘Notoga’, Om Kota

0 komentar


Om Kota Sosok Penyiar Kocak Ikon Kota Palu
foto diambil dari blog Neni Muhidin

Bertubuh mungil, berkopiah, tak ketinggalan senyum khas penghias wajah ovalnya. Warga Kota Palu, Sulawesi Tengah memanggil pria bernama asli Haji Ayuba Lasira ini dengan sebutan Om Kota.
Dia adalah mantan presenter stasiun RRI Palu, yang diasuh sejak tahun 1987 hingga 2006, sekaligus sebagai masa pensiun jurnalis dan presenter radio jenaka ini di stasiun RRI.
Dalam perbincangan ringan dengan penulis, saat bertemu di lobby kantor Wali Kota Palu, Om Kota yang mengawali karir sejak 1969 di Kantor Penerangan Donggala ini dengan terkekeh, yang juga jadi cirri khasnya saat menyiar, mengaku jika beberapa kalimat yang dia ucapkan saat mengawali jam siarnya tiap hari pada pukul 16 sore, sering dijadikan taruhan oleh para penggemarnya.
Kepiawaiannya dalam mengelola suasana yang selalu dirindukan pendengar setianya adalah, kehadiran Om Kota yang selalu diawali dengan suara sirine khas kendaraan patrol petugas keamanan, jika bukan “Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakaatuh,” adalah kata ‘Hallo…’. Pengucapan kata Hallo itu sendiri tetap dengan suara khas dan dialek palu yang kental.
“Ternyata banyak yang taruhkan itu saya punya salam, hehehehe…… dorang (mereka) bilang, hayo mo bilang salam atau halo Om Kota ini,” katanya.
Om Kota juga mengaku sering ditegur seseorang, karena menurut orang yang menegur lebih baik jika Om Kota mengucap salam saja kepada penggemarnya. Namun hal itu hanya dijawab dengan kelakar.
Ada yang lebih khas dari Om Kota yang kini diberi amanah untuk mengasuk salah satu program siar di TVRI Palu ini, “ekkhh….”, sendawa atau dalam bahasa Kaili disebut ‘Notoga’  jadi hal terunik dari Om Kota.
Karena notoga Om Kota merupakan isyarat, jika Om Kota baru menghadiri suatu acara pesta. Notoga juga jadi pencair suasana untuk mengirim salam kepada nama-nama yang dia sebut saat menyiar. Dan dilanjutkan dengan reportase dengan gaya khasnya, dan tak lupa diselingi dengan Bahasa Kaili. Selain untuk mendekatkan diri dengan pendengar, juga sebagai salah satu wujud kebanggaan terhadap bahasa daerah.
Kemudian, biasanya diselingi dengan cubitan-cubitan kata-katanya kepada pemerintah, terhadap berbagai situasi dan kondisi, misal : kondisi jalan, ternak berkeliaran di jalan-jalan kota dan bandara, soal kebersihan maupun kegiatan-kegiatan seremoni. 
Sebab, umumnya penyiar atau broadcaster radio di Kota Palu lebih bangga jika menggunakan dialek Jakarta.
Ini juga sebagai pembeda antara Om Kota dengan penyiar-penyiar radio lainnya. Sekaligus sebagai pembeda antara stasiun swasta dengan stasiun radio pemerintah.
Memang, sapa akrab khas Om Kota tak tergantinkan. Meski telah pensiun dari RRI Palu, gaya khas Om Kota masih bisa kita nikmati di program siar talkshow TVRI Palu, pada acara ATM atau akronim dari Ayuba Tasrif Midu.
Kolumnin Palu, Neni Muhidin, pada situs pribadinya menyamakan sosok Om Kota dengan Adrian Cronauer (diperankan dengan sangat baik oleh aktor humanis Robin Williams), Americans, broadcaster, yang siaran radionya hadir dibarak-barak militer Amerika di perang Vietnam. “Good morning Vietnam…” sapaan khas pembuka siaran yang juga jadi judul film itu (1987) serupa cekat khas gaya dia, “eh, notoga”, lalu terkekeh.
Om Kota atau H Ayuba Lasira dengan ciri khas serta sentilan menggunakan Bahasa daerah adalah ikon atau sosok yang patut dibanggakan warga Kota Palu.
Salam Hormat.

Sunday, 15 February 2015

Fakta Unik Tentang Kelor (2)

0 komentar
Fakta Unik tentang kelor dengan berbagai macam manfaat dan khasiat
Masyarakat Lembah Palu, Sulawesi Tengah, sangat dekat dengan tumbuhan dengan nama latin Moringa Oleifera ini. Begitu dekatnya, seolah Kelor telah menjadi identitas tersendiri bagi etnis asli lembah Palu, Kaili. Sebagai bentuk cinta dan kebanggaan terhadap tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai sayur ini.
Entah kebetulan atau tidak, daun Kelor yang oleh etnik Kaili dimasak secara sederhana, dengan cukup menggunakan bumbu mulai bawang merah, garam, penyedap dan cabai hijau ini, yang jika diolah dengan cara tepat akan menghasilkan rasa luar biasa sedapnya.
Dan dibalik itu semua, ternyata dunia telah mengakui, bahwa tumbuhan Kelor dengan ciri fisik daun berbentuk oval telur, berukuran kecil pada sususan majemuk dalam satu tangkai, bunga berwarna putih kekuningan, bentuk buah segitiga panjang.
Ternyata, daun Kelor memiliki banyak khasiat dan kegunaan. Karena bermanfaat banyak untuk kesehatan, maka tak heran pula jika penduduk dunia telah memanfaatkan Kelor sebagai bahan pengobatan.
Beberapa situs perusahaan farmasi yang telah mengolah ekstrak daun kelor sebagai obat menyebutkan, bahwa kelor bermanfaat untuk sejumlah penyakit dalam.
Misal, peneliti dari India, Senthil Kumar menyebutkan bahwa Kelor atau Moringa Oleifera bisa digunakan untuk Pelindung Hati atau hepatoprotektor. Peneliti Universitas Gajah Mada menyebutkan bahwa daun kelor bermanfaat untuk pengobatan pencernaan tubuh, seperti luka usus atau luka lambung.
Dan, LKBN Antara edisi 19 April 2010 memberitakan tentang Dwiki Rendra G.S., (16), siswa Kelas XI SMA Theresiana 1 Semarang - Jawa Tengah, yang meneliti khasiat tanaman kelor (Moringa Oleifera) meraih medali emas pada International Conference of Young Scientis (ICYS) Tahun 2010 di Bali.
Hasil penelitian lainnya menyebutkan, bahwa daun moringa oleifera memiliki efek energy dingin, yang cocok digunakan sebagai penyembuhan penyakit yang disebabkan energy panas, seperti radang atau kanker.
Daun moringa oleifera memiliki kandungan zat-zat nutrisi dengan kadar tinggi. Contoh, kandungan vitamin C dalam daun kelor yang bisa mencapai tujuh kali lipat dari kandungan vitamin C dalam jeruk. Maka, tidak heran jika daun kelor juga memiliki manfaat sebagai antioksidan.
Selain itu, kandungan vitamin A dalam daun kelor ini empat kali lipat dibanding kandungan vitamin A dalam wortel. Kandungan kalsium dalam daun kelor juga memiliki kandungan empat kali lebih banyak dibandingkan dengan kalsium susu.
So…. berbanggalah jadi orang Kaili sebagai pengkonsumsi Kelor.

Saturday, 14 February 2015

Pedati Tebarkan Virus Kasih Sayang di Pinggir Kali

0 komentar


Sanggar Seni Pedati
Konon, angka 9 merupakan simbol keberuntungan. Dalam permainan (judi) kartu, Sembilan merupakan kemenangan. Bagi manusia, usia 9 tahun adalah masa transisi dari kanak-kanak ke masa remaja.
Dan pada Sabtu malam Minggu, 14/022015, diusia ke Sembilan ini, yang diperingati di Pala Toda atau sekarang lebih dikenal dengan Maesa Ujung, tepat disamping jembatan gantung penghubung Maesa – Nunu, dalam acara yang sederhana namun meriah oleh penampilan puluhan sanggar seni etnik Kaili. Sanggar Seni Pedati membuktikan eksistensinya pada bidang seni budaya, dengan mengajak sejumlah sanggar untuk tampil bersama, kolaborasi antar sanggar utamanya dari daerah yang dikenal sering terlibat bentrokan.
“Jika dulu kawan-kawan pernah saling bertukar batu (saling lempar batu dalam bentrok), sekarang silahkan duel satu panggung,” kata Smiet Lalove, ketua Sanggar Seni Pedati dengan gaya khasnya yang kocak tapi penuh makna perdamaian.
smiet lalove ketua sanggar seni Pedati
Pada acara yang begitu kental dengan nuansa kebersamaan, persaudaraan dan kekerabatan itu, pengunjung disiapkan karpet untuk alas duduk. Makanan yang disuguhkan pun merupakan kesukaan masyarakat daerah ini, ubi Kayu (kasubi).
Bahkan, hingga lewat tengah malam, beberapa sanggar yang belum tampil tetap semangat menunggu giliran untuk menampilkan musiknya. Pemutaran film pendek sebagai selingan, mendapat applause pengunjung begitu memahami pesan dari film-film yang diputar.
Dan di usia ke-9 ini, sekali lagi Pedati seolah ingin mengatakan kepada masyarakat, bahwa seni dan budaya mampu digunakan sebagai alat perekat kembali, rasa persaudaraan yang pernah terbelah oleh konflik.
Seni-budaya bisa menjadi sarana komunikasi dan lobby perdamaian. 

Selamat ulang tahun Pedati. 
Selamat dan terus berkarya.

Salam Budaya.

1961-2015, Selamat Jalan Alex Komang

0 komentar
Alex Komang meninggal
Jagad hiburan Indonesia mengenal sosok brewok asal Jepara Jawa Tengah ini dengan nama Alex Komang. Pria yang lahir pada 17 September 1961 ini bernama asli Syaiful Huda.
Alex Komang meninggal di usia 53 tahun, tepatnya pada Jumat 13 Februari 2015. Pria yang juga disebut-sebut sebagai salah satu murid Teguh Karya dari Teater Populer ini, dikenal sebagai sosok actor dengan segudang prestasi.
Alex menghembuskan nafasnya yang terakhir di Rumah Sakit dr Kariadi Semarang akibat penyakit Hepatitis B yang dia derita.
Terakhir Alex Komang ikut bermain dalam produksi layar lebar ‘Ca Bau Kan’ arahan Nia Dinata, kemudian ‘Surat Kecil Untuk Tuhan’ serta True Love.
Alex Komang merupakan peraih predikat actor terbaik di Festival Film Indonesia pada 1987.
Melalui Musyawarah Besar (Mubes) Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang berlangsung 15-17 Januari 2014 di Hotel Balairung, Jakarta, Alex Komang dipercaya untuk menahkodai BPI periode 2014-2017.
BPI sendiri dibentuk berdasarkan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 33 tahun 2009 tentan Perfilman.
Pada masa Pemilihan Presiden 2014, Alex Komang sempat mengeluarkan pujiannya terhadap konsep ekonomi kreatif Presiden Joko Widodo, yang saat itu masih sebagai calon presiden.

Friday, 13 February 2015

Valentine Day ala Presiden Oi, Iwan Fals

0 komentar


Bagi kalangan remaja, dan kalangan yang sudah mulai meninggalkan masa remaja maupun yang sudah tua.
Musisi Legendaris Indonesia Iwan fals
Lazim mengetahui bahwa 14 Februari adalah sebagai hari kasih sayang, valentine day.
Merespon fenomena ini, secara santun, tanpa ada kata ajakan, makian apalagi mendebat, musisi legendaries Indonesia, Iwan Fals dalam akun media sosial Facebook nya mem-posting gambar unik, yang dengan jelas dan tegas mengingatkan kepada rakyat Indonesia, bahwa tanggal 14 Februari merupakan peringatan hari Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA). Yang hingga saat ini, sang pemimpin Supriyadi tidak ditemukan lagi jasadnya.
Meski secara territorial, tentara PETA lahir di Kota Blitar Jawa Timur, sebagaimana gambaran sikap dalam poster Iwan Fals yang disebar di akun Facebook-nya. Tentara PETA lahir dan ada untuk kehormatan, martabat dan kedaulatan RI pada masa itu. Lantas siapakah PETA?
Apabila kita bertanya kepada banyak orang tentang apa yang mereka ingat jika menyebut tanggal 14 Februari, tentulah mayoritas dari mereka akan berkata 'Hari Valentine', apalagi kalau yang ditanya adalah anak-anak muda zaman sekarang yang hobinya tidak jauh dari 'percintaan' dan 'kegalauan'. Padahal, tanggal 14 Februari dicatat dalam sejarah nasional Indonesia sebagai peringatan peristiwa Pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Kota Blitar pada tahun 1945 - hanya setengah tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia - yang dipimpin oleh Shodancho Supriyadi. Tulisanku kali ini akan sedikit menceritakan ulang peristiwa terjadinya Pemberontakan PETA di Blitar tanggal 14 Februari 1945. Bahan tulisan aku ambil dari berbagai sumber referensi di internet yang insya Allah terpercaya.

PETA (singkatan dari "Pembela Tanah Air") adalah bentukan junta militer pendudukan Kekaisaran Jepang di Indonesia yang didirikan pada bulan Oktober 1943. Jepang merekrut para pemuda Indonesia untuk dijadikan sebagai tentara teritorial guna mempertahankan Pulau Jawa, Bali, dan Sumatera jika pasukan Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Australia, Belanda, dkk.) tiba. Tentara-tentara PETA mendapatkan pelatihan militer dari tentara Kekaisaran Jepang, tetapi berbeda dengan tentara-tentara HEIHO yang ikut bertempur bersama tentara-tentara Jepang di berbagai medan tempur Asia seperti Myanmar, Thailand, dan Filipina. Tentara PETA belum pernah mengalami pengalaman tempur.

Shodancho Supriyadi, Shodancho Muradi, dan rekan-rekannya adalah lulusan angkatan pertama pendidikan komandan peleton PETA di Bogor. Mereka lantas dikembalikan ke daerah asalnya untuk bertugas di bawah Daidan (Batalyon) Blitar.

Nurani para komandan muda itu tersentuh dan tersentak melihat penderitaan rakyat Indonesia yang diperlakukan bagaikan budak oleh tentara Jepang. Kondisi Romusha, yakni orang-orang yang dikerahkan untuk bekerja paksa membangun benteng-benteng di pantai sangat menyedihkan. Banyak yang tewas akibat kelaparan dan terkena berbagai macam penyakit tanpa diobati sama sekali. Para prajurit PETA juga geram melihat kelakuan tentara-tentara Jepang yang suka melecehkan harkat dan martabat wanita-wanita Indonesia. Para wanita ini pada awalnya dijanjikan akan mendapatkan pendidikan di Jakarta, namun ternyata malah menjadi pemuas nafsu seksual para tentara Jepang. Selain itu, ada aturan yang mewajibkan tentara PETA memberi hormat kepada serdadu Jepang, walaupun pangkat prajurit Jepang itu lebih rendah daripada anggota PETA. Harga diri para perwira PETA pun terusik dan terhina.

Dalam buku "Tentara Gemblengan Jepang" yang ditulis oleh Joyce L. Lebra dan diterjemahkan oleh Pustaka Sinar Harapan pada tahun 1988, dibeberkan persiapan-persiapan yang dilakukan oleh Shodancho Supriyadi dan para shodancho lain.

Pertemuan-pertemuan rahasia sudah digelar sejak bulan September 1944. Shodancho Supriyadi merencanakan aksi itu bukan hanya sebagai pemberontakan, tetapi juga sebuah revolusi menuju kemerdekaan bangsa Indonesia. Para pemberontak PETA tersebut menghubungi komandan-komandan batalyon di berbagai wilayah lain untuk bersama-sama mengangkat senjata dan menggalang kekuatan rakyat.

Tanggal 14 Februari 1945 kemudian dipilih sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan pemberontakan, karena saat itu akan ada pertemuan besar seluruh anggota dan komandan PETA di Blitar, sehingga diharapkan anggota-anggota PETA yang lain akan ikut bergabung dalam aksi perlawanan. Tujuannya adalah untuk menguasai Kota Blitar dan mengobarkan semangat pemberontakan di daerah-daerah lain.

Walaupun rencana pemberontakan telah dipersiapkan secara baik, akan tetapi terjadi hal yang tidak diduga. Tiba-tiba pimpinan tentara Kekaisaran Jepang memutuskan membatalkan pertemuan besar seluruh anggota dan komandan PETA di Blitar. Selain itu, Kempetai (polisi rahasia Jepang) ternyata sudah mencium rencana aksi Shodancho Supriyadi dan kawan-kawan. Supriyadi pun cemas dan khawatir mereka ditangkap sebelum aksi dimulai.

Shodancho Supriyadi beserta para komandan dan anggota PETA di Blitar juga dihadapkan pada posisi sulit. Apabila terus melanjutkan perlawanan, mereka akan kalah karena jumlah mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan jumlah tentara Kekaisaran Jepang. Namun, jika perlawanan dibatalkan pun tentara Kekaisaran Jepang sudah mengetahui rencana aksi mereka, sehingga kemungkinan besar para pemberontak akan ditangkap, lalu dijatuhi hukuman yang sangat berat, yakni hukuman mati.

Sebenarnya, banyak yang menilai rencana aksi pemberontakan PETA belum siap, salah satunya Sukarno. Dalam perbincangan yang berlangsung cukup seru, Bung Karno sempat meminta Shodancho Supriyadi dan para perwira PETA yang lain siap memikul tanggung jawab maupun akibat apabila aksi pemberontakan PETA ternyata gagal total.

Alkisah, ketika Sukarno pulang ke Blitar - kota lokasi rumahnya dan tempat tinggal orangtuanya -, datanglah beberapa perwira PETA menemuinya. "Kami sudah merencakan pemberontakan, tetapi kami ingin tahu pendapat Bung Karno sendiri," ujar Shodancho Supriyadi, Pemimpin Perwira PETA yang menemui Bung Karno. Sukarno begitu lama terdiam, sampai akhirnya Shodancho Supriyadi menegaskan, "Kita akan berhasil!"

Sukarno akhirnya mengeluarkan pendapatnya. "Pertimbangkanlah masak-masak. Pertimbangkan untung dan ruginya," ujar Bung Karno. Masih dengan nada suara tertekan karena hati kecilnya tidak setuju langkah Supriyadi dan kawan-kawan, Sukarno melanjutkan, "Saya minta saudara-saudara memikirkan tindakan pemberontakan tidak hanya dari satu segi." Shodancho Supriyadi pun menimpali pendapat Bung Karno dengan penuh semangat, "Saya menjamin. Kita akan berhasil!".

"Saya berpendapat, saudara-saudara terlalu lemah dalam kekuatan militer untuk dapat melancarkan gerakan semacam itu pada waktu sekarang," tegas Bung Karno yang kembali mengutarakan pendapatnya. Usai bertutur kata, Bung Karno kemudian memandangi wajah-wajah para pemuda yang penuh semangat dan berani menyabung nyawa demi Indonesia merdeka. Bung Karno sadar betul bahwa tidak akan ada yang bisa menghalang-halangi tujuan para pemuda tersebut sedikit pun. Oleh karena itu, Bung Karno lantas menyatakan, "Kalau sekiranya saudara-saudara gagal dalam usaha ini, hendaknya sudah siap memikul akibatnya. Jepang akan menembak mati saudara-saudara semua."

"Apakah Bung Karno tidak bisa membela kami?", tanya seorang pemuda. "Tidak. Saudara anggota tentara, bukan orang preman. Dalam hukum militer, hukumannya otomatis," jawab Bung Karno seraya menambahkan bahwa kalau sekiranya mereka tetap bertekad bulat hendak memberontak, Bung Karno tidak lagi melarang. Jika perlu, Bung Karno akan ikut membuat rancangan pemberontakan. Akan tetapi, Bung Karno juga harus tetap menjaga hubungan dengan pemerintahan Jepang di Jakarta, yang sedang intens digarap Sukarno dan para tokoh pergerakan lain seperti Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir dalam rangka menuju kemerdekaan Indonesia pada masa transisi tahun 1945.

Tanggal 13 Februari 1945 malam hari, Shodancho Supriyadi memutuskan bahwa pemberontakan tetap harus dilaksanakan. Siap atau tidak siap, inilah saatnya tentara PETA membalas perlakuan tentara Jepang. Shodancho Supriyadi juga berharap bahwa pengorbanan darah dan nyawa para pemberontak PETA akan mengobarkan semangat perjuangan segenap bangsa Indonesia menuju kemerdekaan, meskipun semua orang sudah tahu mereka akan kalah menghadapi tentara Kekaisaran Jepang.

Tidak semua anggota Daidan Blitar ikut memberontak. Shodancho Supriyadi meminta para pemberontak tidak menyakiti sesama anggota PETA walaupun tak mau memberontak. Akan tetapi, semua orang Jepang wajib dibunuh.

Tepat tanggal 14 Februari 1945 dini hari pukul 03.00 WIB, pasukan PETA pimpinan Shodancho Supriyadi menembakkan mortir ke Hotel Sakura yang menjadi kediaman para perwira militer Kekaisaran Jepang. Markas Kempetai juga ditembaki senapan mesin. Akan tetapi ternyata kedua bangunan tersebut sudah dikosongkan, karena pihak Jepang telah mencium rencana aksi pemberontakan PETA. Dalam aksi yang lain, salah seorang bhudancho (bintara) PETA merobek poster bertuliskan "Indonesia Akan Merdeka" dan menggantinya dengan tulisan "Indonesia Sudah Merdeka!".

Pemberontakan PETA sendiri akhirnya tidak berjalan sesuai rencana. Shodancho Supriyadi gagal menggerakkan satuan lain untuk memberontak dan rencana pemberontakan ini pun terbukti telah diketahui oleh pihak Jepang. Dalam waktu singkat, Jepang mengirimkan pasukan militer untuk memadamkan pemberontakan PETA. Para pemberontak pun terdesak. Difasilitasi oleh Dinas Propaganda Jepang, Kolonel Katagiri menemui Shodancho Muradi, salah satu pentolan pemberontak, dan meminta seluruh pasukan pemberontak kembali ke markas batalyon.

Shodancho Muradi mengajukan syarat kepada Kolonel Katagiri, yakni:
1. Senjata para pemberontak tidak boleh dilucuti Jepang; dan
2. Para pemberontak tidak boleh diperiksa atau diadili Jepang.

Kolonel Katagiri pun setuju. Dia memberikan pedangnya sebagai jaminan. Ini adalah isyarat janji seorang samurai yang harus ditepati. Akan tetapi, janji Katagiri ternyata tidak bisa diterima oleh Komandan Tentara Jepang XVI. Mereka malah mengirim Kempetai untuk mengusut pemberontakan PETA. Jepang pun melanggar janjinya.

Sebanyak 78 orang perwira dan prajurit PETA dari Blitar akhirnya ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara untuk kemudian diadili di Jakarta. Sebanyak enam orang divonis hukuman mati di Ancol pada tanggal 16 Mei 1945, enam orang dipenjara seumur hidup, dan sisanya dihukum sesuai dengan tingkat kesalahan.
Akan tetapi, nasib Shodancho Supriyadi tidak diketahui. Shodancho Supriyadi menghilang secara misterius tanpa ada seorang pun yang mengetahui kabarnya. Sebagian orang meyakini Shodancho Supriyadi tewas di tangan tentara Jepang dalam pertempuran. Sebagian orang juga ada yang meyakini Shodancho Supriyadi tewas diterkam binatang buas di hutan-hutan sekitar Kota Blitar. Sebagian orang pun ada yang meyakini Shodancho Supriyadi melakukan ritual dengan cara menceburkan dirinya ke dalam kawah Gunung Kelud dekat Kota Blitar. Ada pula sebagian orang yang meyakini bahwa Shodancho Supriyadi sesungguhnya masih hidup hingga saat ini, hanya saja keberadaannya tidak diketahui atau sering hidup di alam ghaib. Namun satu hal yang pasti, hilangnya Shodancho Supriyadi adalah suatu misteri sejarah nasional Indonesia yang belum jelas hingga saat ini.

Setelah Indonesia merdeka, Shodancho Supriyadi diangkat oleh Presiden Soekarno sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia yang pertama. Namun, Supriyadi ternyata tidak pernah muncul lagi untuk selama-lamanya, hingga saat pelantikan para menteri. Kemudian, saat para menteri dilantik oleh Presiden Soekarno, tertulis "Menteri Pertahanan belum diangkat". Akhirnya, karena Supriyadi benar-benar tidak muncul lagi, Presiden Soekarno pun mengangkat dan melantik Imam Muhammad Suliyoadikusumo sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan Republik Indonesia.

Pemerintah Republik Indonesia pun mengakui jasa-jasa Supriyadi dan akhirnya mengangkatnya sebagai salah satu pelopor kemerdekaan serta sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.

Untuk mengenang perjuangan pemberontakan tentara PETA pimpinan Shodancho Supriyadi, tepat di lokasi perlawanan didirikan Monumen PETA yang terdiri atas tujuh buah patung tentara PETA dalam posisi siap menyerang, di mana patung Shodancho Supriyadi diletakkan tepat di tengah monumen sebagai pemimpin pemberontakan PETA.
Asrama militer PETA di Kota Blitar sendiri kini telah menjadi sekolah SMP dan SMA Negeri. Namun, jika dilihat secara seksama bentuk bangunannya, pasti langsung terlihat kesan itu merupakan bangunan bekas asrama militer. Adapun tugu tempat pengibaran bendera merah-putih oleh Shodancho Parto Hardjono saat terjadinya pemberontakan PETA kini dikenal sebagai "Monumen Potlot". Monumen Potlot sendiri diresmikan di Kota Blitar pada tahun 1946 oleh Bapak TNI (Tentara Nasional Indonesia) Panglima Jenderal Besar Soedirman.
berbagai sumber

 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com