Thursday, 26 March 2015

Patriotisme Dari Negeri Tatanga (1)

0 komentar
tiang bantaya topodava
Tak seperti daerah lain di negeri ini. Patrotisme rakyat melawan bangsa kolonial Belanda masa penjajahan, terekam apik dalam catatan sejarah. Sekaligus menjadi romatisme heroik masyarakat tentang arti harga diri dari tindak kesewenang-wenangan atas nilai-nilai hak asasi manusi.
Tatanga, beberapa kali menghiasi pemberitaan media cetak dan elektronik, lokal maupun nasional, akibat letupan-letupan kecil bentrok antar kelompok masyarakat.
Tatanga, tidak hanya mengukir sejarah tentang lahirnya pemimpin-pemimpin masa kini, dari sekolah kecil, kumuh dan tak tak begitu mewah layaknya sekolah-sekolah dasar lainnya di Kota Palu. Sebut saja Aminuddin Ponulele dan Bandjela Paliudju yang merupakan jebolan SDN Tatanga.
Tatanga, sejarah tak akan lupa, bahwa dari salah satu sudut kecil di Kota Palu ini, sempat menggetarkan regu marsose Belanda.
Berdasarkan catatan lontara yang ditulis Badrun Arif, antara lain menuliskan ; masa Kemadikaan Tatanga dinyatakan 58 tahun sebelum Perjanjian Bongaya (18 November 1667). Namun dalam Lontara itu, tidak disebutkan siapa – siapa nama madika yang memerintah Tatanga.
Hanya disebutkan, masa Kemadikaan Tatanga berlangsung selama 104 tahun, dari tahun 1609 hingga tahun 1713.(bersambung)

Wednesday, 25 March 2015

SS Lewuto Tidak Hanya Mahir Memainkan Musik Karambangan

0 komentar
ss lewuto
Meski berusaha mengangkat musik etnik Kaili – Sulawesi Tengah, namun bukan berarti Sanggar Seni (SS) Lewuto tidak mampu menyuguhkan lagu-lagu kontemporer mulai pop, rock hingga jazz dalam aransemen etnik Karambangan.

Bahkan, lagu rock legendaris seperti Titanium milik David Gueta mampu dibawakan dengan apik dan unik oleh Ryka.

SS Lewuto yang binaan Mierna Lukman ini beranggotakan sekira 12 personil, yang terbagi atas enam pemusik dan enam vokalis. Masing-masing pemusik adalah Roy (gitaris bassis sekaligus sebagai ketua SS Lewuto), Amos (gitaris karambangan), Ardjad (gitaris karambangan), Uceng dan Jeriko (Gimbe), Rivan (kudode) .

Sehari-hari SS Lewuto bermarkas di Jalan Kartini, Kelurahan Lolu Selatan juga sudah memiliki tempat tersendiri dikalangan seniman dan budayawan Sulawesi Tengah.

Wisata Alam Air Panas Kaliali

0 komentar

wisata air panas desa pulu kabupaten sigi sulawesi tengahObyek wisata alam Air Panas Kaliali yang terletak di Desa Pulu – Kecamatan Dolo Barat – Kabupaten Sigi – Sulawesi Tengah kian digemari masyarakat untuk berwisata menikmati sensasi air panas alami yang bertemu langsung dengan dinginnya aliran air Sungai Pemma, dibawah suasana alami rimbun pepohonan dan pegunungan.

Lokasi obyek wisata Air Panas Kaliali yang oleh sejumlah warga diyakini berkhasiat untuk menyembuhkan sejumlah penyakit ini, berjarak sekitar 35 kilometer dari Kota Palu, yang dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat, selama antara 30 – 50 menit perjalanan.
Selama perjalanan menuju Air Panas Kaliali dari arah Kota Palu, kita akan disuguhi pemandangan alam persawahan dan pegunungan yang membiru.

Setiba di lokasi, memang belum ada tanda khusus yang mencolok obyek wisata ini, karena memang tempat ini masih dianggap dan dinilai tempat bisa oleh pemerintah setempat. Namun kita bisa menanyakan kepada warga, mungkin juga sambil beristirahat sambil melepas penat perjalanan.

Jarak dari jalan poros Palu – Bangga ke lokasi sekitar 300 – 400 meter, dan bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua adn roda empat. Kemudian kita akan jumpai tanah lapang untuk parkir kendaraan, pada hari libur warga mengenaan tarif parkir kepada pengunjung.
Dari tempat parkir kendaraan menuju lokasi kira-kira sejauh 60 meter. Dan sensasi alam pegunungan, hawa sejuk, dingin sungai dan yang utama Air Panas Kalilai akan dengan ramah menyambut Anda.

Eksotisme Pantai Teluk Palu

0 komentar
pantai teluk palu indah, Kota Palu sulawesi tengah
Menikmati hembusan angin pantai yang bersih dan segar, merupakan hal mewah bagi masyarakat perkotaan. Tapi tidak bagi warga Kota Palu yang jadi ibukota provinsi Sulawesi Tengah.

Bentangan pantai Teluk Palu, kurang lebih sepanjang 40 kilometer di wilayah Kota Palu, sering disebut ibarat sepotong surga anugerah dari Tuhan. Palu juga sering disebut kota empat dimensi, ada gunung, laut sungai dan pantai.

Maka tak heran, pada hari libur Minggu, pada salah satu titik yang terletak di antara Kelurahan Talise dan Tondo selalu dipadati pengunjung, untuk menikmati libur bersama keluarga maupun kekasih, yang hendak mandi, sekedar menikmati keramaian atau menikmati sensasi sarana wisata seperti Banana Boat.

Tak perlu mahal untuk menikmati wisata pantai, dengan latar pemandangan pegunungan, minimal pengunjung hanya cukup menyiapkan uang parkir sebesar Rp1000 per motor dan Rp2000 per mobil.

Atau jika hendak menikmati aneka kuliner tradisional, seperti pisang goreng, putu hingga nasi kuning, cukup banyak penjual yang berjejer di hampir sepanjang pantai. Atau Anda juga hendak membawa bekal sendiri dari rumah. Selain itu, di lokasi wisata juga juga terdapat restoran yang menyiapkan menu khas daerah Kota Palu.

Lokasinya yang masih berada didalam kawasan kota, serta akses jalan yang bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi dan umum, membuat kawasan wisata Teluk Palu di Talise kian sempurna untuk menikmati libur Anda.

Jika enggan atau tidak sempat datang untuk menikmati keindahan Teluk Palu pada pagi hari, sore hingga malam hari suasana sepanjang pantai juga kian menawan oleh cahaya lampu pemukiman, perhotelan, penerangan jalan serta para pedagang kaki lima, yang menyediakan anek menu ringan serta minuman khas Sarabba.

So..?? Bagi Anda yang berasal dari daerah luar Sulawesi Tengah, Teluk Palu menanti Anda. Dan temukan keindahan lain yang terungkap dalam tulisan pendek ini.


Fakta Unik Tentang Kelor (2)

0 komentar
sayur kelor khas daerah sulawesi tengah
Masyarakat Lembah Palu, Sulawesi Tengah, sangat dekat dengan tumbuhan dengan nama latin Moringa Oleifera ini. Begitu dekatnya, seolah Kelor telah menjadi identitas tersendiri bagi etnis asli lembah Palu, Kaili. Sebagai bentuk cinta dan kebanggaan terhadap tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai sayur ini.
Entah kebetulan atau tidak, daun Kelor yang oleh etnik Kaili dimasak secara sederhana, dengan cukup menggunakan bumbu mulai bawang merah, garam, penyedap dan cabai hijau ini, yang jika diolah dengan cara tepat akan menghasilkan rasa luar biasa sedapnya.
Dan dibalik itu semua, ternyata dunia telah mengakui, bahwa tumbuhan Kelor dengan ciri fisik daun berbentuk oval telur, berukuran kecil pada sususan majemuk dalam satu tangkai, bunga berwarna putih kekuningan, bentuk buah segitiga panjang.
Ternyata, daun Kelor memiliki banyak khasiat dan kegunaan. Karena bermanfaat banyak untuk kesehatan, maka tak heran pula jika penduduk dunia telah memanfaatkan Kelor sebagai bahan pengobatan.
Beberapa situs perusahaan farmasi yang telah mengolah ekstrak daun kelor sebagai obat menyebutkan, bahwa kelor bermanfaat untuk sejumlah penyakit dalam.
Misal, peneliti dari India, Senthil Kumar menyebutkan bahwa Kelor atau Moringa Oleifera bisa digunakan untuk Pelindung Hati atau hepatoprotektor. Peneliti Universitas Gajah Mada menyebutkan bahwa daun kelor bermanfaat untuk pengobatan pencernaan tubuh, seperti luka usus atau luka lambung.
Dan, LKBN Antara edisi 19 April 2010 memberitakan tentang Dwiki Rendra G.S., (16), siswa Kelas XI SMA Theresiana 1 Semarang - Jawa Tengah, yang meneliti khasiat tanaman kelor (Moringa Oleifera) meraih medali emas pada International Conference of Young Scientis (ICYS) Tahun 2010 di Bali.
Hasil penelitian lainnya menyebutkan, bahwa daun moringa oleifera memiliki efek energy dingin, yang cocok digunakan sebagai penyembuhan penyakit yang disebabkan energy panas, seperti radang atau kanker.
Daun moringa oleifera memiliki kandungan zat-zat nutrisi dengan kadar tinggi. Contoh, kandungan vitamin C dalam daun kelor yang bisa mencapai tujuh kali lipat dari kandungan vitamin C dalam jeruk. Maka, tidak heran jika daun kelor juga memiliki manfaat sebagai antioksidan.
Selain itu, kandungan vitamin A dalam daun kelor ini empat kali lipat dibanding kandungan vitamin A dalam wortel. Kandungan kalsium dalam daun kelor juga memiliki kandungan empat kali lebih banyak dibandingkan dengan kalsium susu.
So…. berbanggalah jadi orang Kaili sebagai pengkonsumsi Kelor.

Fakta Unik Tentang Kelor (1)

0 komentar
sayur kelor khas daerah sulawesi tengah
Masyarakat beberapa daerah di Jawa, menggunakan daun kelor untuk memandikan jenazah. Konon, penggunaan daun kelor dalam prosesi memandikan jenazah ini bertujuan untuk menggelontorkan ilmu-ilmu kedigdayaan (ilmu hitam), atau pengaruh pengaruh ilmu kadigdayaan lainnya.
Oleh sebab itu, mereka tidak memanfaatkan kelor untuk dimasak menjadi sayur. Namun, konon sebagian masyarakat di beberapa daerah di jawa, ada yang memanfaatkan daun atau buah kelor sebagai sayur.
Itulah sebagain mitos tentang daun kelor yang berkembang di daerahku, Blitar, Jawa Timur.
Namun, di daerahku saat ini, Kota Palu, Sulawesi Tengah, mitologi yang berkembang ditengah masyarakat juga berkembang jadi anekdot. Pasalnya, disebut-sebut, orang jawa di palu yang sudah makan sayur kelor tidak akan bisa pulang ke jawa. Kalaupun bisa pulang ke jawa, dia akan ingat terus palu dan kembali ke Bumi Tadulako ini.
Pernah ada orang jawa yang menjawab dengan guyonan, “Kalau dia Cuma mampu makan kelor, mana bisa dia mampu beli tiket pesawat ataupun kapal laut,”.
Maaf itu sekedar guyonan yach…
Bagi masyarakat asli Lembah Palu dari Suku Kaili, Kelor merupakan sayur terbaik dan terlezat. Kerena jika diolah melalui prosedur dan bumbu yang tepat, maka akan kita dapati sayur yang sungguh lezat. Apalagi jika sayur kelor (bahasa Kailinya Uta Kelo) disandingkan dengan sambal Duwo (penja) atau ikan asin yang dipanggang, kemudian diolesi sambal cabai rawit yang masih hijau dengan minyak kelapa tradisional.
Hhmmmm……………………
Sebagai campuran, Kelor bisa dicampur dengan Ubi Kayu (kasubi) atau Terong (palola) atau pisang sepatu/kapok muda (pisang=loka), kemudian sedikit lamale / udang kering / ebi yang berfungsi sebagai pengharum/penyedap.
Untuk mendapatkan sensasi rasa maksimal dari sayur kelor, harus menggunakan teknik yang tepat.
Bagaimanakah tekniknya?
Nantikan dalam coretan berikutnya………… :P :P :D

Cara Orang Palu Memasak Sayur Kelor

0 komentar
sayur kelor khas daerah sulawesi tengah
Untuk memasak sayur Kelor versi orang Palu, cukup dengan resep sederhana. Meski resep dan cara memasaknya sangat sederhana, jika tidak melalui proses yang benar, jangan harap kita dapatkan Uta Kelo segar, harum dan nikmat, utamanya pada proses memasukkan santan kepala.
Biasanya Uta Kelo diolah dengan berbagai campuran, seperti ubi kayu (kasubi), Terong (Palola) serta pisang kepok muda, kemudian dicampur dengan sedikit udang kering atau ebi (lamale) sebagai pengharum.
Dimana kesederhanaan bumbu  Uta Kelo khas lembah Palu ini? Soal bumbu, karena yang dibutuhkan hanya garam, bawang merah sedikit, sedikit cabai (diutamakan yang belum masak/hijau), penyedap rasa (jika mau).
Di daerah ini ada satu jenis cabai yang tumbuh di kawasan pegunungan Kota Palu, ukurannya sangat kecil warnanya hijau, tapi dengan rasa pedas yang lebih dibandingkan dengan yang lainnya, rasanya lebih harum dan gurih.
Seperti umumnya masakan khas daerah ini lainnya, Uta Kelo tidak membutuhkan bawang putih dan cabai secara berlebihan. Karena jika menggunakan bawang-putih dan pedas yang terlalu, justru akan menghilangkan harum aroma asli daun kelor.
Untuk lauk sebagai pendamping Uta Kelo, bisa ikan asin goreng/panggang yang ditumbuk kemudian disiram minyak kelapa atau minyak yang dibuat melalui proses tradisional yang telah dicampu dengan cabai hijau.
Bisa juga disandingkan dengan aneka jenis ikan laut bakar, atau juga saus duwo. Konon di daerah Tuban – Jawa Timur, duwo disebut dengan ulat laut.
Nah berikut bahan dan cara memasak Uta Kelo.
Bahan :
  • Daun kelor muda yang telah di pisah dari tangkai daunnya (15 tangkai kelor)
  • 500 cc santan dari 2 buah kelapa
  • 150 cc santan kental
  • 8 buah pisang kepok muda diiris, atau 5 buah terung ungu diiris
  • 20 buah cabe rawit hijau (dihaluskan)
  • Ebi kering segenggam  (lamale ngau)
  • Penyedap rasa
  • Garam secukupnya
 Pelengkap :
  • Nasi Jagung
  • Ubi Rebus 
Cara Memasak :
  1. Santan dan cabe rawit dimasak hingga mendidih, kemudian masukkan garam, vitsin, ebi dan pisang kepok/terong, bila sudah mendidih & pisang telah empuk, masukkan daun kelor.
  2.  Aduk hingga merata, bila daun terlihat lemas dan matang, masukkan santan kental.
  3. tunggu sebentar, sayur siap diangkat dan disajikan.
  4. Disantap Bersama nasi jagung atau ubi rebus.
Inilah cara memasak sayur Kelor versi orang Palu, Sulawesi Tengah. Sebab, dibeberapa daerah lain di Indonesia, juga ada yang cukup menggemari sayur kelor, namun dengan resep yang tentunya berbeda.  Karena kebanyakan daerah lain di Indonesia memasak sayur kelor dengan bening.

Monday, 9 March 2015

Taman Megalitik Lore Lindu

0 komentar
Bagi Anda yang tertarik dengan hal-hal berbau megalitik, maka Taman Nasional Lore Lindu (TNLL)
taman megalitik lore lindu sulawesi tengah
yang terletak di Provinsi Sulawesi Tengah adalah tempat yang tepat bagi Anda. Taman Nasional Lore Lindu seluas 231.000 hektar ini memiliki beberapa tipe ekosistem hutan yang berbeda-beda,  diantaranya adalah, ekosistem hutan pamah tropika dengan curah hujan tinggi, ekosistem hutan pegunungan bawah, ekosistem hutan pegunungan, dan ekosistem-ekosistem dengan komposisi jenis yang berbeda. Selain itu Tanam Nasional Lore Lindu tidak hanya memiliki berbagai jenis flora dan fauna, tetapi juga memiliki berbagai situs zaman purba megalitik.
Taman Nasional Lore Lindu sendiri mendapat predikat sebagai tempat monumen-monumen Megalitik terbaik di Indonesia. Karena menyimpan sekira 431 situs megalitik. Beberapa jenis monumen megalitik yang ada di Taman Nasional Lore Lindu, yaitu berupa patung batu manusia, jambangan besar (kalamba), piringan (tutu’na), batu-batu cembung (batu dakon), mortir batu, dan tiang penyangga rumah yang berbeda-beda bentuknya. Berbagai studi tentang megalitik yang pernah dilakukan mengatakan bahwa situs-situs megalitik yang ada di Taman Nasional Lore Lindu berasal dari zaman 1300 SM. Megalitik tertinggi yang hingga kini masih berdiri mencapai 4 meter, tetapi kebanyakan mempunyai tinggi sekitar 1,5 – 2,5 meter.
Selain memiliki situs megalitik terbaik di Indonesia, Taman Nasional Lore Lindu juga menjadi salah satu Taman Nasional terbaik untuk mengamati berbagai jenis burung. Taman Nasional yang dinobatkan sebagai cagar biosfir atau paru-paru dunia oleh UNESCO ini memiliki sekitar 227 jenis burung yang 77 diantaranya hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Lore Lindu. Burung yang ditemukan di kawasan ini bervariasi, mulai berukuran kecil seperti burung cabe panggul-kelabu (Dicaeum celebicum) yang ukuran tubuhnya 9 cm, sampai berukuran sangat besar seperti julang sulawesi (Rhyticeros cassidix) dengan panjang tubuhnya sekitar 104 cm.
Tak hanya situs megalitik dan berbagai jenis burung saja yang menjadi daya tarik kawasan taman nasional ini, ada beberapa objek wisata alam yang wajib dikunjungi ketika berada disini. Disini terdapat Danau Lindu yang merupakan tempat terbaik untuk mengamati burung dan memancing,  air terjun Kamarora, dan pemandian air panas di Kadidia.
Aktifitas-aktifitas yang dapat dilakukan di Taman Nasional Lore Lindu, selain mengamati situs megalitik dan berbagai jenis burung yang ada di Taman Nasional Lore Lindu, ada banyak aktifitas lain yang dapat dilakukan disini, diantaranya jungle tracking, foro hunting, camping, hiking, memancing, dan bermain di air terjun.

Untuk akses menuju Taman Nasional Lore Lindu itu sendiri dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat melalui rute Palu-Kamarora (50 km) dengan waktu tempuh 2,5 jam, Palu-Wuasa (100 km) lima jam dan Wuasa-Besoa (50 km) empat jam dan Palu- Kulawi (80 km) sekitar enam jam . Bagi anda ynag berasal dari luar kota Palu, anda bisa mengambil penerbangan domestik dari Manado atau Makasar.

Aneka Tarian Daerah asal Sulawesi Tengah

0 komentar

Provinsi Sulawesi Tengah
tarian saluan khas pamonte
kaya akan budaya yang diwariskan secara turun temurun. Karena banyaknya suku yang mendiami Provinsi Sulawesi Tengah, Penduduk yang tinggal di pantai bagian barat Kabupaten Donggala telah bercampur dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan Masyarakat Gorontalo. Di bagian timur pulau Sulawesi juga terdapat pengaruh kuat Gorontalo dan Manado. Kabupaten Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman hindu. Pusat-pusat tenun terdapat di Donggala Kodi, Watulampu, Palu, Tawaeli, dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan teknik special yang bermotif Bali, India, dan Jepang masih dapat ditemukan.

Masyarakat yang tinggal di daerah pegunungan memiliki budaya tersendiri yang banyak dipengaruhi suku Toraja, Sulawesi Selatan. Rumah tradisional Sulawesi Tengah terbuat tiang dan dinding kayu yang memiliki atap ilalang hanya memiliki satu tiang besar. Lobo atau duhunga merupakan ruang bersama atau aula yang digunakan untuk festival upacara, sedangkan Tambi merupakan rumah tempat tinggal. Selain rumah, terdapat juga lumbung padi yang disebut Gampiri.

Musik dan tarian di Sulawesi Tengah sangat bervariasi antara daerah yang satu dengan lainnya. Musik tradisional memiliki instrument seperti suling, gong, dan gendang. Alat msik ini lebih berfungsi sebagai hiburan dan bukan sebagai alat ritual keagamaan. Di wilayah suku Kaili sekitar pantai barat music tradisional Waino ditampilkan ketika upacara kematian. Kesenian ini telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih popular bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian. Banyak tarian yang berasal dari kepercayaan keagamaan dan ditampilkan ketika festival. Jenis-jenis tarian yang berkembang di provinsi Sulawesi Tengah antara lain :

Tari Balia
Tari Balia, Tari Balia merupakan sejenis tarian yang berkaitan dengan kepercayaan animism, yaitu pemujaan terhadap benda keramat, khusunya yang berhubungan dengan pengobatan tradisional terhadap seseorang yang terkena pengaruh roh jahat. Pengertian Balia ialah tantang dia (Bali = tantang, ia/iya = dia), yang artinya melawan setan yang telah membawa penyakit dalam tubuh manusia. Balia dipandang sebagai prajurit kesehatan yang mampu untuk memberantas atau menyembuhkan penyakit baik itu penyakit berat maupun ringan melalui upacara tertentu. Masuk atau tidaknya makhluk-makhluk tersebut ditentukan oleh irama pukulan gimba (gendang), lalove (seruling) yang mengiringi jalannya upacara ini. Karena itu, agar semua peserta balia bisa kesurupan maka irama gimba, lalove dan gong itu harus berubah-ubah dan bersemangat hingga nantinya peserta balia tersebut akan melakukan gerak-gerak tarian yang kasar, cepat dan tak beraturan dalam kondisi kesurupan. Pemimpin upacara ini ialah seorang dukun yang biasa disebut Tina Nu Balia yang berpakaian seragam terdiri atas buya (sarung), siga (destar) dan halili (baju dari kain kulit kayu), namun saat ini pemimpin upacara balia lebih sering menggunakan baju model kebaya.

Dopalak
Dopalak. Dopalak ditarikan oleh 7 orang penari wanita, seorang diantaranya berperan sebagai palima yaitu kepala penari. Keenam penari lainnya disebut dayang-dayang. Tari Dopalak mengambarkan bagaiman ketujuh orang tersbut dating membawa dulang, setelah itu palima maju terlebih dahulu untuk menyelidiki tempat yang mengandung emas, kemudian diikuti oleh yang lain. Kemudian mereka semua mulai mengambil pasir yang bercampur emas, selanjutnya pekerjaan mendulang dimulai, menggunakan selendang sebagai penyaring, emas yang diperoleh dimasukkan ke dalam dulang selanjutnya mereka pulang. Iringan music tari Dopalak adalah seperangkat kakula, pertunjukkan ini dilakukan kurang lebih 7 menit.

Tari Morego
Morego adalah sejenis tarian untuk menyambut kepulangan para pahlawan dari medan perang dengan membawa kemenangan. Sebelum melakukan tarian ini ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh para penari diantaranya meminta restu kepada pemangku adat, setelah itu mencari wanita pasangan menari yang belum menikah.

Tari Pajoge
Pajoge. Pajoge merupakan tarian yang berasal dari lingkungan istana dan biasanya tari ini dipertunjukkan pada saat ada pesta pelantikan raja. Tarian ini merupakan hasil pengaruh unsur kesenian dari kebudayaan yang berkembang di Sulawesi Selatan. Para penarinya terdiri atas tujuh orang penari wanita dan penari pria. Pajoge berfungsi sebagai tarian hiburan, juga merupakan alat penghubung antara raja dan rakyat, untuk mendekatkan hubungan agar rakyat tetap cinta kepada rajanya dan sebaliknya.
Tari Torompio
Torompio  berarti “angin berputar”. Gerakan tarian yang dinamis dengan gerakan berputar-putar bagaikan insan yang sedang dilanda cinta kasih, sehingga tarian ini disebut torompio. Pengertian gelora cinta kasih untuk semua kehidupan, seperti: cinta tanah air, cinta sesama umat, cinta kepada tamu-tamu (menghargai tamu-tamu) dan lain sebagainya. Namun, yang lebih menonjol ialah cinta kasih antarsesama remaja atau muda-mudi, sehingga tarian ini lebih dikenal sebagai tarian muda-mudi. Torompio dalam penampilannya sangat ditentukan oleh syair lagu pengiring yang dinyanyikan oleh penari dan pengiring tari.

Tarian ini dahulu ditarikan secara spontan oleh para remaja dengan jumlah yang tidak terbatas dan dipergelarkan di tempat terbuka, seperti halaman rumah atau tempat tertentu yang agak luas. Para penontonnya muda-mudi yang berdiri dan membentuk lingkaran, karena tari ini didominasi oleh komposisi lingkaran dan berbaris.
Tari Pontanu
Tari Pontanu. Pontanu berarti menenun, tari Pontanu menggambarkan gadis-gadis Kaili yang sedang menenun kain sarung Donggala atau yang lebih dikenal dengan Buye Sabe. Seperti yang kita tahu sarung Donggala mempunyai motif warna yang indah diperkaya dengan sulaman benang emas membuat sarung Donggala dikenal dimana-mana sebagai tenunan khas Sulawesi Tengah, karena keindahannya pula hingga diabadikan dalam bentuk tarian Pontanu.

Tari Pamonte
Pamonte artinya menuai padi, Tari Pamonte merupakan tari khas daerah Sulawesi Tengah yang menggambarkan kegiatan para petani pada saat
musim panen tiba, mereka memetik dan menuai padi secara bergotong-royong. Pesta panen disebut dengan adat vunja yaitu tradisi masyarakat dalam mensyukuri keberhasilan panen. Dalam tarian ini terlihat jelas proses pengolahan padi menjadi beras. Mulai dari memetik, menumbuk, menapis. Gerak tari pamonte mengikuti syair lagu yang dinyanyikan. Layaknya seorang petani, mereka menggunakan topi caping dalam tarian. Pakaian Tari Pamonte biasanya terdiri dari kebaya berwarna Merah, dihiasi dengan benang emas, dan dilengkapi dengan kerudung warna merah.

Tari Baliore
Tari Baliore. Tari Baliore menggambarkan keindahan gadis-gadis provinsi Sulawesi tengah yang bergembira saat panen tiba. Mereka menari-nari dengan lincahnya. Hentakan ritmis tetabuhan, terutama gendang semakin menambah dinamisnya tarian. Pakaian tari Baliore terdiri atas blus lengan pendek berwarna hijau modifikasi baju poko’ yang dihiasi dengan benang kuning. Pada bagian bawah menggunakan celana yang panjangnya 3/4 (bahasa Kaili:  Puruka  Pajana), berwarna hitam dihiasi benang emas. Sebagai pelapis pinggul digunakan rok pendek (bahasa Kaili:  Ro’mbuku) berwarna merah dan kuning serta memakai ban pinggang (bahasa Kaili: Pende) berwarna hitam yang bersulamkan benang emas. Adapun aksesorisnya terdiri atas anting-anting panjang atau  dali taroe tusuk konde atau  potosu unte, gelang atau  ponto, gelang kaki atau vinti .

Tari Jepeng
Tari Jepeng. Tari Jepeng merupakan jenis tarian yang bernafaskan Islam. Pada mulanya tari Jepeng hanya ditarikan oleh kaum dewasa secara berpasangan, pada acara pesta perkawinan, khitanan, syukuran dan sebagainya, namun seiring perkembangan jaman, tari ini mulai dikreasikan, sehingga dapat dilakukan oleh kaum wanita dan pria secara berpasangan. Tarian ini diiringi kesenian marawasi, bersama-sama dengan alat kesenian lainnya seperti gambus, dan biola (viol)

Tari Pepoinaya
Tari Pepoinaya. Tari Pepoinaya merupakan tari pengucapan syukur atas segala berkah dan karunia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan ini. Tari ini adalah pengembangan dari upacara adat Wurake dari Kabupaten Poso.Tari Pepoinaya menggunakan busana daerah Kecamatan Lore Selatan Kabupaten Poso yang disebut Baju Bada. Pakaian ini terdiri dari blus lengan pendek sebatas siku (bahasa Bada : Kaeva) berwama merah muda yang diaplikasi dengan pita warna-warni. Pada bagian bawah, menggunakan rok bersusun dua (bahasa Bada : Wini) berwarna biru, yang diaplikasi dengan Pita wama merah dan merah muda.
Tari Posisani
Tari Posisani. Posisani berarti perkenalan, tari ini merupakan tari pergaulan yang menggambarkan kegembiraan mda-mudi saat pesta. Mereka bergembira bersama sambil menari dan menyanyi. Para gadis menari dengan memainkan kerincing. Di saat inilah mereka berkenalan antara satu dengan yang lainnya, dan pada akhirnya mereka menemukan pasangan hidup. Pakaian Tari Posisani sama dengan pakaian yang digunakan pada Tari Jepeng, yaitu blus lengan panjang (bahasa Kaili : Baju Pasua) berwarna merah jambu. Pada pergelangan tangan blus ini, diaplikasi dengan kain warna biru yang bersulamkan benang emas sebagai pengganti gelang tangan. Pakaian Tari Posisani ini mengunakan selempang (bahasan Kaili : Nosampa) berwarna ungu dan putih yang dihiasi dengan picing/mote warna kuning, bermotifkan taiganja.

Pada bagian bawah, memakai celana panjang sebatas mata kaki (Puruka ndate) berwarna merah jambu. Pada pergelangan kaki celana ini diaplikasi dengan kain berwarna biru yang dihiasi dengan picing/mote warna kuning bermotifkan taiganja, sebagai pengganti gelang kaki. Selain celana panjang, juga memakai rok warna biru yang dihiasi picing/mote warna kuning bermotifkan taiganja dan benang emas. Rok ini dilengkapi dengan ban pinggang warna hitam, bersulamkan benang emas.

Tari Anitu
Anitu. Anitu berarti halus, tari ini dikenal di daerah Kulawi dan Palu Kabupaten Donggala. Tari Anitu ditarikan oleh 6 orang wanita. Formasi pokok dalam tarian tersebut adalah membentuk dua deretan ke belakang, yaitu tiga di kiri dan tiga di kanan serta membentuk satu dertan berjajar dngan setiap penari meletakkan tangan dibahu penari yang ada di sebelahnya. Gerak-gerak tangan yang digunakan adalah membuka dan menutup telapak tangan, gerak-gerak tangan seperti menumbuk, dan mengayunkan kedua tangan sambil memgang ujng selendang.

Tari Dero
Tari Dero, Dero atau Modero adalah tari persahabatan yang biasa dilakukan banyak orang dengan formasi melingkar. Tari Dero dikenal masyarakat Poso-Morowali, Sulawesi Tengah sebagai tarian perdamaian. Peserta tari tersebut saling berpegangan tangan yang menandakan rasa persatuan dan persahabatan, meskipun sebelumnya belum saling mengenal. Tarian ini biasanya diiringi organ tunggal dengan dua orang penyanyi.

Tari Dero menjadi sarana persahabatan sekaligus perdamaian, saat menari Dero setiap orang bebas masuk ke dalam lingkaran dan langsung menggandeng tangan orang disebelahnya, tidak ada yang pernah menolak penggandengan tangan itu karena Dero memang ajang untuk bergembira dan mencari sahabat tanpa peduli apa agamannya. Tarian Dero bukan tarian leluhur tetapi merupakan kebiasaan selama Pendudukan Jepang di Indonesia ketika Perang Dunia II. Saat ini tari dero telah dikembangkan dalam bentuk yang lebih popular bagi para pemuda sebagai sarana mencari pasangan di suatu keramaian.


Saturday, 7 March 2015

Cara Orang Palu Memasak Sayur Kelor

0 komentar


sayur kelor khas palu sulawesi tengah
Untuk memasak sayur Kelor versi orang Palu, cukup dengan resep sederhana. Meski resep dan cara memasaknya sangat sederhana, jika tidak melalui proses yang benar, jangan harap kita dapatkan Uta Kelo segar, harum dan nikmat, utamanya pada proses memasukkan santan kepala.
Biasanya Uta Kelo diolah dengan berbagai campuran, seperti ubi kayu (kasubi), Terong (Palola) serta pisang kepok muda, kemudian dicampur dengan sedikit udang kering atau ebi (lamale) sebagai pengharum.
Dimana kesederhanaan bumbu  Uta Kelo khas lembah Palu ini? Soal bumbu, karena yang dibutuhkan hanya garam, bawang merah sedikit, sedikit cabai (diutamakan yang belum masak/hijau), penyedap rasa (jika mau).
Di daerah ini ada satu jenis cabai yang tumbuh di kawasan pegunungan Kota Palu, ukurannya sangat kecil warnanya hijau, tapi dengan rasa pedas yang lebih dibandingkan dengan yang lainnya, rasanya lebih harum dan gurih.
Seperti umumnya masakan khas daerah ini lainnya, Uta Kelo tidak membutuhkan bawang putih dan cabai secara berlebihan. Karena jika menggunakan bawang-putih dan pedas yang terlalu, justru akan menghilangkan harum aroma asli daun kelor.
Untuk lauk sebagai pendamping Uta Kelo, bisa ikan asin goreng/panggang yang ditumbuk kemudian disiram minyak kelapa atau minyak yang dibuat melalui proses tradisional yang telah dicampu dengan cabai hijau.
Bisa juga disandingkan dengan aneka jenis ikan laut bakar, atau juga saus duwo. Konon di daerah Tuban – Jawa Timur, duwo disebut dengan ulat laut.
Nah berikut bahan dan cara memasak Uta Kelo.
Bahan :
  • Daun kelor muda yang telah di pisah dari tangkai daunnya (15 tangkai kelor)
  • 500 cc santan dari 2 buah kelapa
  • 150 cc santan kental
  • 8 buah pisang kepok muda diiris, atau 5 buah terung ungu diiris
  • 20 buah cabe rawit hijau (dihaluskan)
  • Ebi kering segenggam  (lamale ngau)
  • Penyedap rasa
  • Garam secukupnya
 Pelengkap :
  • Nasi Jagung
  • Ubi Rebus 
Cara Memasak :
  1. Santan dan cabe rawit dimasak hingga mendidih, kemudian masukkan garam, vitsin, ebi dan pisang kepok/terong, bila sudah mendidih & pisang telah empuk, masukkan daun kelor.
  2.  Aduk hingga merata, bila daun terlihat lemas dan matang, masukkan santan kental.
  3. tunggu sebentar, sayur siap diangkat dan disajikan.
  4. Disantap Bersama nasi jagung atau ubi rebus.
Inilah cara memasak sayur Kelor versi orang Palu, Sulawesi Tengah. Sebab, dibeberapa daerah lain di Indonesia, juga ada yang cukup menggemari sayur kelor, namun dengan resep yang tentunya berbeda.  Karena kebanyakan daerah lain di Indonesia memasak sayur kelor dengan bening.
 

Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com